Teknologi-Teknologi Ini Membantu Proklamasi Indonesia
Momen proklamasi yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak akan sukses tanpa bantuan teknologi.

17 Agustus 1945 merupakan salah satu tanggal penting bagi Indonesia. Di momen tersebut, Bung Karno menyampaikan satu pesan yang mengklaim bahwa Indonesia telah resmi menjadi sebuah negara sendiri yang terpisah dari kekuasaan kekaisaran Jepang.


Kali ini, startup Jogja Qatros Teknologi Nusantara akan membahas teknologi-teknologi yang membantu proklamasi Indonesia baik sebelum maupun setelah terjadinya momen tersebut. Upaya dan pemikiran dari tokoh pergerakan memang menjadi faktor utama terjadinya proklamasi, akan tetapi teknologi ternyata memainkan peranannya sendiri, kisanak.


6 Teknologi Yang Membantu Proklamasi Indonesia


1. Mesin Ketik

Ingatkah kisanak dengan nama Sayuti Melik dan BM Diah? Yap, mereka berdua merupakan orang yang bertugas untuk mengetik teks proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno.


Mesin ketik merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk mendukung terjadinya proklamasi. Jadi, kalau tidak ada mesin ketik, maka tidak ada teks proklamasi dalam format ketik.


Lokasi pengetikan teks proklamasi terjadi di rumah dari salah satu Laksamana Jepang bernama Tadashi Maeda. Mengutip dari Historia.id, mesin ketik yang digunakan oleh Sayuti Melik merupakan mesin tik pinjaman dari kantor militer Jerman. Adalah asisten Maeda, Satsuki Mishima orang membantu meminjamkan mesin tik itu dari Mayor Kalender, perwira Angkatan Laut Jerman.



2. Radio

Di zaman pra-kemerdekaan, radio merupakan salah satu teknologi canggih. Lewat radio, pihak Indonesia mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu lewat pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki.


Selain mendengar kabar kekalahan Jepang, radio juga menjadi medium untuk menyiarkan berita kemerdekaan Indonesia ke luar negeri. Joesoef Ronodipoero merupakan salah satu orang yang berjasa menyiarkan proklamasi Indonesia melalui radio. Menurut catatan, Joesoef menyiarkan berita tersebut melalui ruang siaran Radio Hoso Kanri Kyoku, salah satu radio milik Jepang.


3. Telepon

Telepon menjadi salah satu media komunikasi dari para pengusung kemerdekaan Indonesia. Dalam buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Bung Hatta menyatakan bahwa telepon mempunyai peran penting untuk aspek komunikasi tokoh pergerakan.


Teleponlah yang menyelamatkan momen persiapan proklamasi Indonesia. Tercatat, para tokoh pergerakan sedang menggunakan salah satu ruangan dari Hotel des indies untuk rapat. Sayangnya pihak hotel memberikan informasi bahwa mereka tidak bisa melayani keperluan mereka hingga larut malam.


Ahmad Subardjo kemudian menggunakan telepon untuk berkomunikasi dengan Laksamana Tadashi Maeda untuk meminta bantuan. Dan Admiral tersebut bersedia untuk meminjamkan salah satu ruangan di rumahnya untuk para tokoh pergerakan.


4. Telegram

Peran telegram cukup signifikan dalam membantu proklamasi. Telegram digunakan untuk menyebarkan teks proklamasi dari Jakarta menuju kota-kota lain. Sutan Syahrir merupakan salah satu tokoh yang berupaya untuk mengirimkan teks proklamasi ke kota lain. Salah satunya adalah kota Cirebon.


5. Mesin Cetak

Tanpa persebaran yang masif, proklamasi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh bisa jadi akan sia-sia. Maka dari itu para tokoh pergerakan memanfaatkan semua teknologi yang dekat dengan mereka.


Adalah BM Diah, salah satu tokoh pergerakan yang tercatat mengupayakan tersiarnya kabar melalui media cetak. Menggunakan mesin cetak, ia mencetak 1000 lembar teks proklamasi hasil tulisan tangan Bung Karno dan menyebarkannya ke wiilayah Jakarta. 


6. Microphone dan Amplifier

Apakah kisanak pernah melihat foto presiden Soekarno membacakan teks proklamasi? Salah satu objek yang dapat kita lihat di sana adalah adanya sebuah mikrofon.


Dari mana asal mikrofon ini menjadi pertanyaan yang berujung pada beberapa jawaban berbeda. Dalam otobiografinya, Bung Karno menyebut bahwa mikrofon itu merupakan hasil curian dari salah satu radio Jepang. Sedangkan salah satu pejabat tinggi Indonesia di era Orde Baru sempat mengutarakan pendapat yang berbeda yakni mikrofon tersebut merupakan rampasan dari Belanda. 


Mengutip dari Historia.id, yang menjadi penjelasan paling detail adalah pernyataan dari Sudiro dalam buku berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945. Dalam buku itu, Sudiro menyatakan bahwa mikrofon dan amplifier yang digunakan dalam momen proklamasi adalah milik Gunawan, pemilik Radio Satriya.


Jauh sebelum adanya internet, teknologi-teknologi di atas sudah membantu untuk sebuah perubahan yang terbilang masif. Oh ya, di kesempatan ini startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara juga ingin mengucapkan selamat hari ulang tahun yang ke 75 untuk Indonesia. Semoga selalu sehat ya!

Writer: Girindra P.C


Sign in to leave a comment
5 Bahasa Pemrograman Paling Populer Digunakan
Java, JavaScript, JavaJive, JavaNine dan sobat Javanica~