Stereotype Usang Tentang 'Wong Ndeso'
Stereotype-ing pada ‘wong ndeso’ masih sering dilakukan. Kata 'ndeso' sendiri sering dikaitkan dengan kenaifan, keterbelakangan, ketidaksiapan, dan beberapa kesan negatif lainnya.

Stereotype Usang Tentang 'Wong Ndeso'

Stereotype-ing pada ‘wong ndeso’ masih sering dilakukan. Kata 'ndeso' sendiri sering dikaitkan dengan kenaifan, keterbelakangan, ketidaksiapan, dan beberapa kesan negatif lainnya.


Stereotype Usang Tentang Wong Ndeso

(© Qatros.com/Rudy Wijanarko)

Ungkapan ‘ndeso’ yang kerap kita dengar (lebih khusus) di daerah urban rekat dengan stereotype yang menarik untuk dikulik. Kata ‘ndeso’ yang ditujukan untuk obyek, sering kali dikaitkan dengan kenaifan, keterbelakangan, ketidaksiapan, dan beberapa hal-hal yang membuatnya menjadi terkesan negatif. Maka dari itu, kata 'ndeso' sering digunakan sebagai ejekan atau upaya untuk meletakkan posisi diri lebih rendah di depan orang lain.

 

Bukan hanya kesan itu saja yang melekat untuk kata 'ndeso'. Di samping itu, kata ‘ndeso’ juga akrab dengan kesan murni, kesederhanaan, kesopanan, tradisional, agraris, Jawa, konvensional, dan beberapa hal lain.

 

Harus diakui bahwa keterbatasan untuk berkembang di daerah pernah terjadi. Untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi, wong ndeso berpindah menuju daerah administrasi dan industri yang dulunya berpusat di ibukota. Dan untuk mendapatkan ilmu, wong ndeso harus bersekolah formal yang memang tempatnya rata-rata berada di kota. 

 

Teknologi dan pendidikan yang semakin demokratis, dalam arti semakin bisa diakses oleh hampir setiap orang, mengubah keadaan secara signifikan. Tidak sedikit orang-orang daerah yang melakukan pengembangan diri dan mengupayakan produktivitas melalui teknologi. 

 

Tenaga profesional yang menjadi bagian dari startup Jogja, Qatros (termasuk para founder yang semuanya berasal dari daerah), merupakan contoh bahwa ‘wong ndeso’ juga memiliki kesempatan untuk menjadi ahli di bidang-bidang yang erat dengan citra modern seperti teknologi. Para tenaga profesional ini tercatat telah bekerja untuk beberapa perusahaan ternama seperti GO-JEK, Gameloft, Binar Academy, dan lain-lain.

 

Yang menjadi permasalahan, sampai saat ini ‘wong ndeso’ atau orang daerah masih kerap dibatasi ruang dan aksesnya untuk mengembangkan diri, mengaktualisasikan diri, atau mungkin bahkan membatasi ruang gerak produktivitasnya. Stereotype ini masih tetap hidup dan kerap terjadi pada pihak-pihak yang masih menempelkan citra-citra ‘ndeso’ dalam diri atau kelompoknya.

 

Tidak pernah lupa dengan darimana asal, 'Technology From Ndeso People' kemudian dipilih oleh para founder (Lutvi Rosyady, Ibnu Fajar, cs) sebagai semangat dasar produktivitas dari startup asal Jogja, Qatros Teknologi Nusantara. Yang menjadi komitmen utama Qatros adalah memberikan pelayanan profesional dan dedikasi untuk memberikan kualitas terbaik.

 

Dalam lingkup kecil, 'Technology From Ndeso People' merupakan sebuah penegasan bahwa teknologi bukan hanya makanan dari orang-orang kota dan orang yang memiliki kapital yang mumpuni. Qatros tidak ingin membuat batasan antara masyarakat kota dan desa, tapi ingin memperkecil kekuatan dari stereotype yang menekan tidak sedikit orang daerah.

 

Dengan mengusung 'Technology From Ndeso People' sebagai semangat utama, bukan berarti Qatros sebagai startup ingin mengeksklusifkan diri dan membatasi kerjasama untuk orang daerah saja. Qatros membuka lebar peluang untuk berkolaborasi dengan pihak manapun.

 

‘Technology From Ndeso People’ juga merupakan cita-cita dari Qatros untuk membentuk sebuah ekosistem sub urban - rural yang tidak kalah dengan iklim kota besar. Kedepannya, Qatros berupaya untuk aktif dalam pembangunan dan pengembangan penggunaan teknologi untuk wilayah sub-urban sampai rural.

 

Melalui ‘Technology From Ndeso People’, Qatros juga berharap agar angka urbanisasi bisa berkurang. Teknologi telah berhasil memangkas jarak dan waktu, sehingga beberapa sektor pekerjaan tidak perlu untuk menetap di kota untuk bekerja. Orang daerah sih sekarang bisa banget buat kerja di rumah.

 

Kalau diperkenankan untuk menarik kesimpulan, kini sangat tidak relevan untuk melihat kemampuan berdasarkan dari mana seseorang atau sekelompok itu berasal. Kualitas sumber daya manusia, etika kerja dan juga hasil kerja merupakan faktor utama yang layak untuk berbicara lebih dibanding sebuah stereotype, kisanak~

Sign in to leave a comment
Hari Pendidikan Nasional: EduTech, Ancaman Atau Peluang?
Hari Pendidikan Nasional merupakan momen yang tepat untuk melakukan refleksi apakah Edutech merupakan ancaman atau peluang.