Perempuan dan Respons Ruang Kerja: Emansipasi di Dunia Teknologi
Apakah Emansipasi di Dunia Teknologi Masih Menjadi Hal Yang Tabu?

Perempuan dan Respons Ruang Kerja: Emansipasi di Dunia Teknologi

Apakah Emansipasi di Dunia Teknologi Masih Menjadi Hal Yang Tabu?

Emansipasi di Dunia Teknologi

Emansipasi merupakan kata yang selalu melekat setiap Hari Kartini, 21 April, khususnya di wilayah Indonesia. Figur Raden Ajeng Kartini juga menjadi bagian lain yang tidak terpisahkan dari momen yang datang tiap tahun ini. Semangat Kartini untuk melakukan emansipasi atau penyetaraan inilah yang nafasnya terus diboyong oleh banyak perempuan Indonesia.

Perempuan tidak harus menjadi atau melakukan apa yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Akan tetapi, lebih kepada mendapatkan kesempatan yang sama untuk menempatkan dan mengaktualisasikan dirinya di manapun. Sebagai contoh, tidak sedikit perempuan yang kini berprofesi sebagai pengemudi ojek online.

Sensitivitas akan setaranya gender tentu bukan hanya urusan satu pihak yang mengusung. Ikut andilnya banyak pihak akan membuat ekosistem yang sehat bagi kaum perempuan untuk berkarya dan berekspresi, termasuk di ranah teknologi, Yang menjadi pertanyaan, apakah hal tersebut sudah cukup terpenuhi?

Emansipasi di dunia teknologi bukanlah isapan jempol belaka. Setidaknya  inilah yang disampaikan oleh empat perempuan yang merupakan bagian dari Qatros Teknologi Nusantara. Mereka adalah Vinna Pratiwi, Nadila Putri, Anggeretha Wahayuningtyas dan Danna Cynthia yang akan menceritakan pengalaman personalnya selama menjadikan Qatros sebagai ‘ruang’ untuk berkarya dan berekspresi.

Sebagai lulusan Akuntansi, Vinna Pratiwi mungkin merupakan salah satu sosok yang menarik. Usai wisuda, ia malah penasaran untuk mendalami ranah Teknologi dan Informasi. Ketertarikan itu membawa Vinna pada perjalanan tersendiri yakni menjalani masa pendidikan IT secara non formal di DOES University, akademi besutan Erix Soekamti.

Setelah lulus dari DOES University, Vinna lebih memilih untuk menjadi Backend Engineer ketimbang seorang akuntan. Ia paham bahwa di ranah yang ia pilih tersebut populasi pekerjanya lebih banyak diisi oleh laki-laki, dan itu bukanlah sebuah masalah. Salah satu start up di Jogja, Qatros, merupakan pelabuhan pertama Vinna sebagai Backend Engineer. Ia menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya di ranah ini.

“Kalau bekerja sebagai Backend Engineer di Qatros saya merasa tidak ada yang sulit ketika menyampaikan ide. Rekan kerja tidak ada yang menganggap saya sebelah mata karena saya perempuan. Semua fair berdasarkan kemampuan,” cerita Vinna ketika ditanya tentang pendapatnya emansipasi di dunia teknologi.

Berbeda tapi hampir mirip dengan Vinna, Nadila Putri menceritakan pengalaman personalnya menjadi satu-satunya perempuan di tim Frontend Engineer di Qatros. Nadila menceritakan pengalamannya bahwa perempuan yang bekerja sebagai Frontend Engineer cenderung lebih teliti dibanding laki-laki

"Ada hal-hal yang lebih jago dilakukan sama Frontend Engineer seperti saya. Terlebih yang membutuhkan ketelitian. (Karena satu-satunya perempuan di tim) Lebih enak punya anggota cewek lagi. Biar ada teman ngobrol, karena agak sungkan ngobrol dengan rekan cowok,” ucapnya.

Salah satu bagian dari tim Quality Assurance di Qatros, Anggeretha Wahayuningtyas bercerita bahwa populasi perempuan untuk Quality Assurance (QA) masih terbilang sedikit. "Porsi perempuan dalam posisi QA masih terbilang cukup minoritas, menurutku tidak banyak perempuan yang tertarik dalam bidang ini. Padahal dunia IT itu cukup menarik dan menantang. Mendorong kita terus belajar hal-hal baru. Semoga ke depannya banyak Kartini Kartini yang memulai karir sebagai Quality Assurance," ungkap perempuan yang akrab disapa Retha tersebut.

Retha juga menceritakan pengalamannya terkait adakah hierarki gender yang ia rasakan dalam lingkup Qatros. "Sama sekali tidak ada hierarki gender, di sini kesetaraan itu nyata. Justru di Qatros sangat terbuka dalam menerima pendapat, pertanyaan ataupun kritik yang membangun. Pak Lutvi Rosyady dan Pak Ibnu Fajar selalu mendorong saya untuk kritis dan terus belajar. Kesempatan belajar dan berpendapat sangat terbuka di Qatros," kata Retha.

Danna Cynthia sebagai Team Leader divisi Markom merupakan contoh konkret tidak adanya hierarki gender di Qatros. Faktor utama yang membuat Danna berada di posisi yang ia kerjakan saat ini lebih menekankan pada penilaian kinerja.

“Menurutku (Qatros) sangat terbuka. Tidak ada perbedaan atau pembatasan untuk perempuan. Di Qatros aja untuk urusan pegawai baru dan lama sudah sangat terbuka, apalagi untuk gender. Sudah bukan lagi suatu masalah. Menurutku yang dilihat sih hanya kinerja saja,” ujar Danna.

Beberapa cerita di atas tentu sudah sedikit membuka gambaran bahwa emansipasi di dunia teknologi bukan hanya isapan jempol semata. Bagaimana perempuan Indonesia sekarang bisa merasakan emansipasi nyata di manapun dia berada tidak lepas dari peran Kartini. Selamat merayakan Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia.

Sign in to leave a comment
Lek Qin: Maskot Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara
Lek Qin namanya. Maskot startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara ini memiliki cerita tersendiri dalam proses pengkreasiannya.