Perbedaan Manual Testing dan Automated Testing
Apa sih perbedaan dari manual testing dan automated testing?


(©Qatros.com/Rudy Wijanarko)

Bagi kisanak-kisanak yang sering bersinggungan dengan development software, tentu tidak akan menganggap remeh fase software testing. Dalam melakukan software testing, setidaknya ada dua cara yang bisa digunakan: manual testing dan automated testing. Baik manual testing dan automated testing semua mempunyai kelebihan dan kekurangan. Mari kita rinci satu persatu, kisanak.


Manual Testing


Manual testing merupakan satu cara untuk melakukan testing software yang mana Quality Assurance tester mengeksekusi-nya dengan pendekatan secara manual. Jadi software langsung dicoba oleh tangan manusia. Manual testing merupakan metode klasik yang masih digunakan hingga kini.


Dalam manual testing, Quality Assurance tester akan memeriksa fitur-fitur penting dari software yang tengah diuji. Dalam hal ini, Quality Assurance tester akan menjalankan software dan menganalisa apakah semua aspek software sudah sesuai dengan rancangan awal (ekspektasi awal pembuatannya) atau tidak.


Kelebihan Manual Testing


Bersinggungan langsung dengan User Interface dan

Penilaian manusia menjadi kelebihan dari manual testing. Manual testing memberikan keleluasaan bagi Quality Assurance tester untuk dapat berinteraksi langsung dengan tampilan software (user interface) sekaligus merasakan pengalaman penggunaannya (user experience). Manual testing memfasilitasi Quality Assurance tester untuk menemukan bug ketika berinteraksi dengan faktor UI & UX. Ketika harus  Maka dari itu, Quality Assurance tester dapat memberikan  mereka mengenai tampilan dari software.


Lebih Mudah

Kelebihan manual testing jika dibanding dengan automated testing adalah faktor kemudahannya. Kisanak tidak perlu menggunakan peralatan tambahan atau bahkan membuat teks coding seperti yang biasa digunakan dalam metode automated testing. Quality Assurance tester hanya perlu membuka software melalui device untuk melakukan proses testing


Kekurangan Manual Testing


Rentan terjadi kesalahan

Harus diakui bahwa faktor manusia bisa sangat berpengaruh terhadap hasil testing. Hal inilah yang menjadi kelemahan manual testing jika dibandingkan dengan automated testing.


Tidak reusable

Tidak seperti automated testing, Quality Assurance tester tidak dapat menyimpan proses testing yang sebelumnya ia kerjakan secara manual. 


Menghabiskan waktu dan tenaga Quality Assurance tester

Apabila harus melakukan testing sebanyak-banyaknya pada satu fitur, tentu hal ini akan menghabiskan tenaga Quality Assurance tester. Tidak seperti automated testing yang hanya perlu untuk melakukan setting agar terjadi pengulangan testing sebanyak yang Quality Assurance tester harapkan.


Automated Testing


Untuk melakukan proses automated testing, Quality Assurance tester perlu untuk membuat kode atau skrip testing. Skrip tersebut akan dijalankan dengan bantuan automated testing tool. Skrip yang telah tertulis dengan benar dan kemudian dijalankan melalui automated testing tool akan melakukan validasi secara otomatis pada software yang sedang di-testing.


Automated testing bergantung pada scripted test yang berjalan secara otomatis. Fungsinya tidak lain untuk membandingkan hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya. Quality Assurance tester akan melihat apakah software tersebut sudah berjalan sesuai ekspektasi atau tidak.


Kelebihan Automated Testing


Dapat menemukan lebih banyak bug

Dengan skrip, testing akan dapat memindai software lebih detail. Kemungkinan besar automated testing akan menemukan bug yang manusia tidak dapat menemukannya.


Cepat dan efisien

Skrip (coding) bekerja lebih cepat daripada manusia. Jadi akan sangat menghemat waktu. Yang mungkin menjadi permasalahannya adalah bagaimana menyusun skrip (coding) untuk melakukan testing.


Reusable

Tidak seperti manual testing, automated testing dapat digunakan berulang-ulang. Quality Assurance tester dapat menyimpan skrip yang digunakan untuk testing. Apabila ingin menggunakannya kembali, tinggal buka kembali file coding yang sudah disimpan.


Kelemahan Automated Testing


Tidak bersinggungan langsung dengan UI & UX

Automated testing sangat bergantung pada mesin dan menghilangkan sisi penilaian dari manusia sebagai user software. Maka dari itu, kita tidak akan dapat memberi penilaian yang valid untuk user interface dan user experience apabila menggunakan automated testing.


Terbatas

Manual testing dapat dikatakan lebih terbuka untuk dilakukan oleh siapapun. Berbeda dengan automated testing yang masih perlu untuk mempelajari tentang bagaimana cara membuat skrip pengujian software. Selain itu, setiap automated testing tool memiliki keterbatasan yang mengurangi ruang lingkup otomasi.


Setelah melakukan proses testing, maka hal yang perlu dikerjakan selanjutnya oleh Quality Assurance tester adalah membuat bug report. Bug report ini merupakan rekaman pengujian yang di dalamnya terdapat isu yang harus dianalisis dan dikelola lebih lanjut oleh developer.


Cukup merepotkan apabila menuliskan laporan testing secara manual. Maka dari itu ada baiknya kisanak menggunakan alat bantu bug report. Salah satu yang bisa digunakan adalah getdebug. getdebug merupakan platform scenario dan bug collaboration tool untuk mempermudah kerja tim (QA, PM, Dev).

 

getdebug dibangun agar ramah saat digunakan oleh Quality Assurance tester. Sistem penulisan bug report di getdebug dibuat dengan kaidah yang mengedepankan poin-poin: urut, rinci dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk penulisannya. Bug report yang dilakukan menggunakan getdebug akan mencakup laporan terkait step by step, result dan expected behaviour, screenshot dari proses testing, dan bug severity - priority.

Tidak hanya memudahkan Quality Assurance tester, aspek kolaborasi getdebug memberi keuntungan untuk developer dan product manager. Selain preset bug report yang memang akan menghasilkan laporan yang terorganisir, developer dan product manager dapat mengelola bug report yang telah dikirim oleh QA, sesuai dengan role masing-masing.


Sign in to leave a comment
Catatan Sejarah: Hari Lahir Pancasila
Menurut catatan sejarah, Hari Lahir Pancasila terjadi tanggal 1 Juni 1945. Pidato dari Soekarno di sidang BPUPKI lah yang menjadi pemicunya.