Pentingnya Software Testing dan Tragedi China Airlines 140
Pentingnya software testing dibuktikan lewat terjadinya tragedi dari China Airlines 140.

Pentingnya Software Testing dan Tragedi China Airlines 140

Pentingnya software testing dibuktikan melalui terjadinya tragedi China Airlines 140 di tahun 1994 silam.

Pentingnya software testing

(© Yonezawa-Shi Yamagata, Japan)

Apa sih pentingnya software testing? Bagi kami yang merupakan bagian dari komunitas Quality Assurance di Indonesia, software testing bisa dibilang salah satu spot vital dalam proses produksi dan pengembangan sebuah produk. Salah satu pentingnya software testing antara lain akan menentukan kualitas sebuah software. Software harus dipastikan tidak melenceng dari ekspektasi awal untuk apa produk ini dibuat.

Apakah software ini siap digunakan untuk pengguna menjadi kata kunci penting. Maka dari itu, sebuah produk harus lolos software testing yang biasanya dilakukan oleh pihak Quality Assurance (QA). Bukan suatu masalah jika satu software yang masih butuh untuk ‘dipoles’ sudah mulai disebarkan atau digunakan untuk khalayak. Yang harus dipastikan adalah peninjauan risiko bagi konsumen bahwa software ini masih aman dipakai walau masih perlu untuk dimodifikasi. Pemberitahuan informasi bagi pengguna bahwa software ini masih perlu untuk modifikasi lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan secara penuh juga perlu untuk didengungkan.

Ada sebuah insiden terkait penggunaan suatu software yang sebenarnya belum layak untuk digunakan, namun (secara tidak disengaja) dioperasikan untuk keperluan massal. Tragedi China Airlines 140, begitu kejadian ini sering disebut. Menurut catatan shippai.org, tragedi ini menimpa maskapai China Airlines penerbangan 140 untuk armada Airbus A300-600 pada tanggal 26 April 1994, Nagoya Airport, Aichi, Jepang.

Kecelakaan pesawat ini menewaskan 264 orang dan membuat 7 orang luka parah. Investigasi kasus melaporkan bahwa sebagai produsen transportasi, Airbus Industries, telah memberikan peringatan untuk China Airlines jika software autopilot untuk pesawat tersebut masih perlu diperbaiki. Akan tetapi, China Airlines melihat bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang terlalu mendesak untuk diselesaikan. Inilah salah satu aspek pentingnya software testing, yang akhirnya membuat Airbus Industries dibebaskan dari tuntutan karena sudah bertindak sesuai dengan prosedur.

Sistem automasi kemudi untuk mode pengaturan take off/go-around pada pesawat itu merupakan penyebab utama. Saat hendak mendarat di bandara, awak kemudi berusaha melakukan pendaratan melalui kemudi manual. Sayangnya, karena tombol take off/go around tidak dipindah pada mode nonaktif, hal ini menyebabkan benturan perintah pada kendali pesawat. Kemudi manual berusaha untuk melakukan manuver ke arah landasan, sedangkan kemudi autopilot masih berusaha membawa badan pesawat untuk naik lebih tinggi di udara. Kejadian ini merupakan kecelakaan moda transportasi udara terbesar ke-dua yang pernah terjadi di Jepang.

 
 

(Ilustrasi kecelakaan Pesawat China Airlines. Sumber: YouTube - Thang Trand)

Lantas, berapa kerugian akibat tragedi ini? Desember 2003, Pengadilan Wilayah Nagoya memerintahkan China Airlines untuk membayar 5 milyar Yen. Airbus Industries yang juga sempat dituntut, dibebaskan karena dinilai telah memberikan peringatan kepada pihak maskapai sesuai dengan prosedur.

Beberapa orang terdekat korban meninggal dan yang selamat dalam kejadian itu menyatakan bahwa kompensasi yang diberikan oleh China Airlines tidak memadai. Pada April 2007, China Airlines meminta maaf atas kecelakaan tersebut dan memberikan kompensasi tambahan.

Software testing untuk quality assurance pada produk moda transportasi semacam ini membutuhkan kecermatan yang tinggi. Selain itu, perspektif terkait probabilitas risiko harus dibuka sangat lebar dan dipertimbangkan kemudian mencari solusi serta pencegahan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Begitu juga saat berbicara produk digital yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan, termasuk startup di Indonesia yang begitu banyak bermunculan. Pentingnya software testing bisa juga digunakan sebagai kuda-kuda untuk mendapatkan impresi produk yang baik. Tentu saja dengan mengandalkan quality assurance terpercaya agar dapat memberikan yang terbaik bagi konsumen.

Sign in to leave a comment
Perempuan dan Respons Ruang Kerja: Emansipasi di Dunia Teknologi
Apakah Emansipasi di Dunia Teknologi Masih Menjadi Hal Yang Tabu?