Mengenal Scrum: Treatment Untuk Produk dan Project Yang Kompleks
Scrum layak digunakan tim yang memiliki kans untuk menghadapi permasalahan-permasalahan baru.

Apa itu Scrum
Scrum merupakan pilihan tepat bagi developer teknologi yang dituntut untuk terus mengejar kebutuhan pengguna dan dapat terus menyesuaikan dengan pasar. Apalagi tim developer yang terlibat punya kecenderungan untuk menemui permasalahan-permasalahan yang tergolong baru bagi mereka.


Kali ini, startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara akan membahas apa sih yang dimaksud dengan scrum. Selain itu, akan dibahas juga sejarah perkembangan, istilah-istilah dalam scrum, cara kerja, serta sejarah perkembangannya. Jadi simak artikel ini sampai habis ya!


Sejarah Perkembangan Scrum

The New New Product Development Game, sebuah artikel yang dipublikasi pada tahun 1986 milik Hirotaka Takeuchi dan Ikujiro Nonaka merupakan pioneer dari konsep scrum. Artikel tersebut menjelaskan cara development produk komersial yang diadaptasi dari olahraga rugby. 


Konsep scrum mengambil taktik tim rugby untuk mencapai area goal. Seluruh anggota tim bersama-sama mendekat menuju area goal. Dalam proses menuju area goal, tim melakukan permainan mengoper bola agar bola tidak jatuh ke tangan lawan.


Hirotaka Takeuchi dan Ikujiro Nonaka mengklaim bahwa dengan cara kerja seperti ini, tim akan lebih fleksibel dan lebih cepat dalam proses pengerjaan. Keduanya juga memiliki sebutan lain untuk scrum yakni pendekatan holistik atau pendekatan rugby. 


Jeff Sutherland adalah orang pertama yang mengimplementasikan scrum dalam proyek di tahun 1993. Di tahun 1995, Jeff Sutherland dan Ken Schwaber menggunakan cara scrum sebagai proses formal development yang dilakukan oleh timnya.


Di tahun 2001, Jeff Sutherland dan Ken Schwaber bersama dengan beberapa pioneer yang menggunakan metode agile development membuat sebuah pertemuan. Dari diskusi grup tersebut lahir istilah Agile Manifesto.


Apa Itu Scrum?

Sebelumnya, startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara telah menjelaskan dua jenis metode development software: waterfall dan agile. Scrum bukanlah sebuah metode, scrum merupakan salah satu jenis cara kerja dari metode agile


Scrum adalah sebuah framework atau cara kerja yang digunakan untuk mengatasi faktor adaptasi ketika tim nantinya akan menghadapi permasalahan-permasalahan kompleks. Aspek produktif dan kreatif yang didorong dalam cara kerja scrum ditujukan untuk menghasilkan produk dengan nilai setinggi mungkin.  


Scrum sendiri merupakan cara kerja yang simpel agar tim dapat bekerja sama dengan efektif untuk menghadirkan produk dengan tingkat pengerjaan yang kompleks. Fleksibilitas dari seluruh anggota tim juga menjadi faktor penting bagi tim yang menggunakan cara kerja scrum.


Tim yang menggunakan cara kerja scrum biasanya berjumlah tidak lebih dari 10 - 12 orang. Hal ini dilakukan untuk menghindari tidak efektifnya komunikasi serta peluang tidak saling pedulinya para anggota di dalamnya.


Istilah-Istilah dalam Scrum

Di pembahasan selanjutnya akan ada istilah-istilah yang biasa digunakan dalam proses kerja development berbasis scrum. Maka dari itu, bagi pihak-pihak yang baru dengan istilah scrum ada baiknya untuk memahami beberapa istilah berikut ini.


Product backlog: Sebuah daftar yang berisi aktivitas/pekerjaan yang harus dilakukan tim untuk membuat, me-maintain, dan menjaga kualitas suatu produk. Daftar ini disupervisi oleh product owner/product manager.


Sprint: Sebuah fase yang membagi satu bulan menjadi beberapa minggu. Sprint biasanya berbentuk kotak dan digunakan untuk memperjelas proses dan progress pengerjaan produk. Sprint berisi keterangan tanggal, keterangan aktivitas, keterangan goal yang harus dicapai oleh satu tim scrum.


Sprint Planning: Sebuah fase kurang dari 8 jam. Aktivitas dalam sprint planning tidak lain adalah tim mengerjakan list-list yang ada di Backlog. Pekerjaan yang perlu diambil terlebih dahulu adalah pekerjaan yang memiliki tingkatan prioritas paling tinggi.


Sprint Goal: Istilah yang digunakan untuk menjelaskan goal atau tujuan dari sprint yang dilakukan oleh tim. 


Daily scrum/stand-up: Pertemuan tim yang biasanya berdurasi 15 menit. Masing-masing anggota menjelaskan apa yang telah dikerjakannya, apa yang akan dikerjakannya dan kesulitan apa yang mereka hadapi. Pertemuan ini juga ditujukan untuk melihat progress dari proses development yang sedang mereka kerjakan.


Scrum Retrospective: Sebuah kegiatan di mana tim melakukan inspeksi terkait kinerja tim dari sprint yang telah dilakukan sebelumnya. Di momen ini, tim juga merencanakan pendekatan yang akan mereka gunakan di fase selanjutnya.


Nilai /Value dalam tim Scrum

Untuk menjalankan scrum, tiap tim perlu untuk menjunjung lima nilai/value scrum. Berikut poin dan deskripsinya: 

Courage: Tiap anggota tim scrum harus memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang benar. Selain itu, tiap anggota juga harus tangguh menghadapi pekerjaan yang sulit.

Focus: Tiap anggota tim harus fokus bekerja ketika sprint berlangsung. Goal dari sprint juga menjadi fokus besarnya.

Commitment: Secara personal maupun keseluruhan tubuh tim, komitmen untuk mencapai goal merupakan api yang nyalanya harus tetap dijaga.  

Respect: Tiap-tiap anggota harus saling menghargai, baik dari faktor kapabilitas maupun faktor personal.

Openness: Baik tim dan stakeholder harus sepakat untuk terbuka satu sama lain. Semua pekerjaan dan permasalahan harus dibagikan.


Tiga Pilar Scrum

Tiga pilar scrum ini memperkokoh setiap implementasi yang dilakukan dalam proses development. Pilar ini juga bisa mengatasi permasalahan apabila tim menghadapi permasalahan yang kompleks.


Basis dari tiga pilar ini adalah kontrol empiris. Empiris yang dimaksud adalah pengetahuan yang diperoleh tim serta pengambilan keputusan yang dilakukan didasarkan pada pengalaman.


Transparansi: Transparansi menjadi aspek yang penting dari proses karena progres dari keseluruhan tim ataupun tiap individu yang ada di dalamnya harus dipertanggung jawabkan.

Inspeksi: Inspeksi merupakan aspek yang dapat digunakan untuk mendeteksi hasil-hasil yang tidak diharapkan. Inspeksi akan sangat bermanfaat jika dilakukan oleh pihak yang kompeten. Akan tetapi, pilar yang satu ini tidak perlu dilakukan terlalu sering karena akan menghambat pekerjaan.

Adaptasi: Setelah inspeksi menemukan ada hal atau proses yang menyimpang, maka aspek adaptasi harus dilakukan. Proses ini harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalkan penyimpangan lebih jauh.


Role dalam Scrum

Development team: Sebuah tim yang bertanggung jawab untuk mengelola, mengatur, dan mengembangkan sebuah produk.

Product owner: Orang yang memastikan development team bekerja sesuai dengan goal yang ditetapkan. Untuk mengisi posisi product owner, diperlukan wawasan bisnis yang baik. 

Scrum master: Orang yang memastikan bahwa proses development dipahami dan dijalankan oleh semua tim. Scrum master merupakan pimpinan dari tim yang bertugas untuk membantu seluruh anggota jika terjadi kesulitan.


Bagaimana Cara Kerja Scrum?

Development software tradisional mengutamakan aspek efisien. Sedangkan development software modern mengedepankan value


Cara kerja scrum dimulai dari product owner atau product manager yang mewakili representasi keinginan customer dan stakeholder. Data-data tersebut kemudian diolah dan dilaporkan oleh product owner/product manager di product backlog


Aktivitas development akan dikerjakan oleh tim dengan dasar kerja self-organizing team selama fase sprint. Di fase sprint planning, tim akan membuat backlog baru sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh produk.  Apabila pekerjaan dari kolom backlog sudah selesai, maka anggota tim harus memindahkan pekerjaan tersebut ke kolom done.


Dalam sehari, tim akan dipertemukan dalam momen yang biasa disebut dengan daily scrum/standup selama 15 menit untuk melihat progres dari masing-masing anggota dan progres dari tim. Untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik, maka dalam satu tim harus ada orang yang berposisi sebagai scrum master


Scrum master merupakan orang yang membantu seluruh anggota tim untuk memahami teori, praktek, dan aturan dari scrum. Jika tim sudah bekerja sesuai dengan sprint goal, maka tim dapat melihat perkembangan dari aktivitas yang telah mereka lakukan secara berulang-ulang. Untuk meningkatkan transparansi dari pengembangan yang dilakukan, tim dapat melakukan merilis produk sembari terus melakukan perbaikan dan pengembangan.


Di akhir fase sprint, tim akan mengundang stakeholder untuk melakukan review dari produk yang telah dikembangkan. Sesi retrospective juga dapat dilakukan pada fase ini. Melalui retrospective tiap anggota tim dapat melakukan review kinerja mereka. Diharapkan sesi ini dapat membantu tim untuk lebih efektif dan produktif lagi di kemudian hari.

Scrum mendorong tim untuk merilis produk lebih sering. Scrum juga mendorong tim untuk merilis produk yang bernilai tinggi untuk pengguna. 

Kesimpulan

Ketika melihat sepintas penjelasan di atas, konsep scrum boleh jadi ringan dan mudah untuk dipahami. Akan tetapi, ketika sudah menggali lebih dalam, kisanak akan menemukan scrum merupakan cara kerja yang sulit untuk dikuasai.

Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara melihat bahwa scrum merupakan cara kerja yang sangat fleksibel. Meskipun begitu, kerangka kerja harus tetap seimbang dan setiap bagian yang terkait harus dimaksimalkan. Jadi, jika kisanak sedang menginisiasi produk yang mempunyai kecenderungan untuk terus berkembang, boleh jadi scrum merupakan cara kerja yang cocok untuk diaplikasikan.


Latest Posts

Sign in to leave a comment
Mengenal Internet of Things (IoT)
Dengan Internet of Things, pengguna dapat melakukan supervisi, mengontrol device, menghimpun dan mengelola data dari jarak jauh.