Mengenal Internet of Things (IoT)
Dengan Internet of Things, pengguna dapat melakukan supervisi, mengontrol device, menghimpun dan mengelola data dari jarak jauh.

apa itu internet of things
“Teknologi berkembang dengan pesat” merupakan satu pernyataan yang sangat klise. Akan tetapi, harus diakui jika pernyataan tersebut benar-benar menggambarkan kondisi yang ada di dunia saat ini. 


Berkat teknologi, benda-benda yang sifatnya harian (mungkin bagi sebagian orang sering dianggap remeh oleh orang) seperti lampu bahkan bisa dinyalakan atau dimatikan melalui sambungan internet. Benda-benda semacam itu biasanya disebut dengan Internet of Things


Kali ini, startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara, akan membahas perihal apa itu Internet of Things. Qatros juga akan menjelaskan bagaimana cara kerja IoT, elemen-elemen dari IoT hingga sejarah perkembangan IoT. Jadi, simak artikel ini sampai habis, ya!


Apa Itu Internet of Things (IoT)?

Internet of Things (IoT) merupakan sebuah sistem yang menghubungkan objek (bisa berupa: device, mesin mekanik atau digital, hewan, bahkan manusia) melalui unique identifier (UID). Objek-objek terkait dapat melakukan transfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia - manusia.


Internet of Things punya sebutan lain yakni Internet of Objects. Beberapa contoh objek-objek Internet of Things antara lain monitor jantung implan di tubuh seseorang, biochip yang ditanamkan pada tubuh hewan-hewan liar yang menjadi objek penelitian dalam siaran NatGeo, atau objek-objek lain yang diberi alamat Internet Protocol (IP). Semuanya dapat mentransfer data melalui jaringan.


Di beberapa organisasi, IoT menjadi salah satu opsi agar operasional dapat berjalan lebih efisien. Salah satunya adalah barang yang diciptakan dan diprogram agar dapat memahami ekspresi pelanggan demi meningkatkan pelayanan.


Bagaimana cara kerja Internet of Things (IoT)?

Internet of Things (IoT) merupakan perangkat pintar yang terintegrasi dengan jaringan. Pada sebuah IoT tertanam sistem antara lain prosesor, sensor atau hardware komunikasi. Ditanamkannya sistem tersebut tidak lain untuk mengumpulkan, mengirim, atau bertindak berdasarkan data yang diperoleh.


Untuk jenis Internet of Things (IoT) yang dilengkapi oleh sensor, IoT ini dapat membagikan data yang diperoleh dari sensor melalui sambungan IoT gateway atau device lainnya. Data tersebut kemudian dikirim melalui cloud untuk dianalisis.


Beberapa jenis Internet of Things (IoT) lain bekerja berdasarkan informasi dari IoT yang lain. Jadi, IoT jenis ini akan berjalan secara otomatis, tanpa campur tangan tenaga manusia. Akan tetapi, tetap dibutuhkan tenaga manusia untuk melakukan set-up, memberi instruksi pada device, mengakses data yang dikumpulkan device, atau melakukan aktivitas maintenance.

Konektivitas, jaringan, dan protokol komunikasi sangat mendukung kinerja dari device IoT. Beberapa IoT khusus diberikan kemampuan artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk proses kinerjanya.


Elemen-Elemen Dari IoT

Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) menyebutkan bahwa ada enam elemen penting dari sebuah IoT. Masing-masing elemen menjelaskan cakupan kerja dari IoT. Mari kita membahasnya bersama-sama.


1. Identification: Elemen ini memainkan peranan penting dalam memberi nama dan mencocokkan layanan dengan permintaan. Contoh metode identifikasi yang digunakan untuk IoT adalah kode produk elektronik, ubiquitous codes, dan lain-lain.


2. Sensing: Elemen ini bertugas untuk mengumpulkan berbagai data dan mengirimkannya ke database, warehouse data, atau pusat data. Data yang terkumpul akan dianalisis lebih lanjut. Beberapa contoh elemen sensing antara lain adalah sensor kelembaban, sensor suhu, ponsel, dan lain-lain.


3. Communication: Teknologi komunikasi akan menghubungkan banyak objek dalam satu jaringan untuk keperluan tertentu. Beberapa protokol komunikasi yang tersedia di IoT antara lain: Wi-Fi, Bluetooth, IEEE 802.15.4, Z-Wave, LTE-Advanced, Near Field Communication, ultra-wide bandwidth, Low Power Wide-Area Network, dan emerging standard.


4. Computation: Elemen ini merupakan hardware untuk pemrosesan. Mikrokontroler, mikroprosesor, system on chips (SoCs) atau field programmable gate arrays, dan software application menjadi bagian dari computation. Beberapa platform hardware yang umum digunakan antara lain Arduino dan Raspberry PI. Adanya platform cloud juga menjadi bagian penting dari IoT. Cloud akan menambah kapabilitas kerja IoT karena dapat memproses banyak data secara real time dan mengekstrak semua jenis informasi penting dari data yang telah dikumpulkan

.

5. Service: Elemen menjelaskan layanan seperti apa yang bisa diberikan oleh sebuah IoT. IEEE membagi cakupan elemen ini menjadi empat bagian yakni:


a) Identity related service

Bagian ini menjadi dasar untuk bagian service selanjutnya. Sebelum mapping objek dari real-world ke virtual world, setiap objek perlu identifikasi satu persatu.

b) Information aggregation service

Bagian ini menjelaskan cakupan service IoT yakni untuk mengumpulkan dan merangkum informasi mentah. 

c) Collaborative aware service

Bagian ini menjelaskan service terkait bagaimana informasi yang telah dikumpulkan dan dirangkum dapat diproses lebih lanjut. Keputusan seperti apa yang diambil atau reaksi seperti apa yang akan dijalankan.

d) Ubiquitous service

Bagian ini menjelaskan service IoT bahwa collaborative-aware service dapat dibagikan kepada siapapun. Tentunya semua tergantung persetujuan user.


6. Semantik: Elemen ini ini menjelaskan cakupan kerja IoT yang lain yakni mengekstrak pengetahuan secara otomatis sehingga mampu menyediakan layanan yang diperlukan. Jika diurutkan, proses semantik IoT akan berjalan sebagai berikut: discover resources, utilizing resources, modelling information, recognizing and analyzing data. Teknologi semantik yang umum digunakan antara lain resource description framework, web ontology language, efficient XML interchange, dan lain-lain.


Sejarah Perkembangan IoT

Istilah Internet of Things digagas oleh Kevin Ashton pada tahun 1999. Co-founder dari Auto-ID ini menyebutkan istilah Internet of Things untuk kali pertama dalam sebuah presentasi yang dibuatnya untuk perusahaan ternama P&G (Procter & Gamble). Pada saat itu, ia melihat bahwa radio frequency identification (RFID) atau pengenal frekuensi radio merupakan hal yang penting untuk Internet of Things. Ia berujar bahwa RFID memungkinkan komputer untuk mengelola semua objek.


Meskipun Kevin Ashton menjadi orang pertama yang menyebutkan istilah IoT, ide untuk menghubungkan antar device sudah ada sejak 1970-an. Embedded internet dan pervasive computing merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan gagasan tersebut.


Di tahun 1980 ada satu alat yang kinerjanya terhubung dengan internet. Alat tersebut adalah Coke vending machine yang berada di Carnegie Mellon University. Melalui web, petugas dapat memeriksa status mesin. Petugas juga dapat mengecek apakah minuman sudah dingin, ataukah mereka harus turun ke lapangan untuk membetulkan mesin tersebut.


Cara kerja IoT kemudian berkembang, basis kerjanya menjadi M2M (Machine to Machine). Jadi masing-masing mesin tersambung melalui sebuah jaringan. Jadi mesin tidak perlu lagi berinteraksi dengan manusia secara langsung. M2M merujuk pada tersambungnya device dengan cloud. Pengaturannya dan penghimpunan data pun melalui cloud.


Basis kerja M2M kemudian berkembang lagi. IoT menjadi satu jaringan sensor dari jutaan smart device yang terhubung dengan orang, sistem atau aplikasi untuk menghimpun dan membagikan data.


Internet of Things dapat menjadi perpanjangan tangan untuk supervisi, mengontrol dan mengakuisisi data. Jadi, pengguna bisa mendapatkan data secara real meskipun dilakukan secara remote. Begitu juga untuk mengoperasikan alat IoT dan mengkondisikan-nya.


Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara memiliki layanan untuk mengimplementasikan atau melakukan maintenance Internet of Things sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika berminat, silahkan hubungi kami di sini.
Sign in to leave a comment
Cloud Computing (Komputasi Awan): Perbedaan Antara SaaS, PaaS, dan IaaS
Faktor ‘praktis’ membuat cloud computing (komputasi awan) menjadi layanan yang banyak digunakan oleh perusahaan atau startup di era ini.