Meet Our Team: Lutvi Rosyady
Kepala kru-kru Qatros Teknologi Nusantara bercerita soal perjalanan karirnya serta satu kebiasaannya sejak kecil yang dinilainya sangat membantunya dalam menyelesaikan masalah.


Dalam setiap kelompok, tentu ada individu-individu yang melakukan inisiasi untuk mengumpulkan khalayak yang memiliki visi yang sama. Hal serupa juga berlaku di tubuh startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara. 

Lutvi Rosyady, merupakan salah satu sosok yang menginisiasi lahirnya Qatros Teknologi Nusantara. Di dalam ekosistem kerja Qatros, Lutvi Rosyady dikenal sebagai pribadi yang optimis, penuh semangat, dan suka membagikan ilmu serta pengalamannya pada anggota-anggota yang lain.

Apabila melihat catatan jejaknya yang tertulis di Linkedin, kita akan mendapati bahwa Lutvi Rosyady adalah sosok sangat passionate untuk mengembangkan dirinya di bidang-bidang yang disukainya serta memiliki segambreng pengalaman kerja. 

Tercatat ia pernah menjadi bagian dari startup mentereng, GO-JEK, sebagai Head of Engineer serta Head of Product. Setelah memutuskan keluar dari GO-JEK, Lutvi Rosyady menjadi masuk sebagai salah satu inisiator satu startup edukasi bernama Binar Academy. Bukan hanya co-founder, Lutvi Rosyady juga di sana didapuk sebagai Chief of Technology, sembari aktif membagikan ilmu kepada para akademisi di Binar.

Untuk pembuatan konten ini, saya secara langsung berbincang dengan ‘sang kepala kru-kru’ secara 1 on 1 melalui sambungan telepon. Corona menjadi penghalang temu tatap muka kami. Ya.. jadi apa boleh buat.

Pertanyaan pertama dari saya tidak lain adalah “seberapa sukses Pak Lutvi Rosyady sekarang?” Pertanyaan ini saya pilih mengingat beliau mempunyai catatan karir yang outstanding (alias mencolot). Akan tetapi, bagi Pak Lutvi Rosyady, apa yang telah dicapainya itu bukan sebuah pencapaian yang besar.

“Belum sukses. Menurut gue, sukses itu progresif. Apa yang gue lakuin sekarang belum sampai 0,0001 persennya kesuksesan yang gue pikirkan. Dan tahapan itu akan terus berjalan. Ketika kita berproses, maka arti sukses itu juga berprogres, itu menurut gue,” terangnya.

Ketika berbicara soal trajektori karir, tolakan awal profesinya sebagai karyawan reguler dinilai Pak Lutvi merupakan bekal yang sangat menguntungkan. Pengalaman itulah yang menjadi kompas Pak Lutvi untuk menentukan langkahnya sebagai pimpinan.

“Kalau boleh menganalogikan, kerja sebagai karyawan itu ibarat kru kapal. Sedangkan jadi owner itu kaptennya. Kru kapal punya jobdesk kayak bersihin kapal, benerin kalau kapal lagi ada bocor, dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sedangkan jadi kapten lebih kepada ke mana sih kapal ini bakal dibawa. Kapten yang mengambil keputusan tujuan dari si kapal yang dia naiki. Jadi kapten menurut gue harus pernah jadi kru kapal, karena cakupan pekerjaannya (kapten kapal) menurutku gabungan dari jobdesk-jobdesk kru kapal itu tadi,” ujarnnya.

Ada salah satu kebiasaannya sejak kecil yang kemudian mempermudah Pak Lutvi melakukan  pekerjaan serta mengatasi permasalahan yang ia hadapi. Beliaunya bercerita kalau sering kali melakukan reverse thinking alias berpikir terbalik sejak kecil. 

Dari kecil gue udah terbiasa untuk melakukan reverse thinking. Pada akhirnya hal itu yang memudahkan gue untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang gue lakoni sekarang kayak pentesting. Pentesting kan intinya bagaimana cari vulnerability dari sebuah objek.” 

“Jadi misal ada uang 8 milyar di dalam brankas, nah gimana cara itu brankas kita masuki. Kita harus bikin kunci atau memang ada celah-celah yang bisa kita gunakan untuk ngambil isi brankas. Nah di situ reverse thinking masuk. Kita dituntut untuk membayangkan kira-kira konstruksi itu kelemahannya ada di mana sih, itu yang akan kita coba.”

“Waktu kecil gue inget banget sering nerapin reverse thinking. Sebagai contoh, gue nggak mau mukul orang karena memang gue tahu kalau kena pukul itu sakit. Jadi pola pikir gue yang sudah ada sejak dulu ya seperti itu. Reverse,” kisahnya.

Ada satu alasan menarik mengapa Pak Lutvi menginisiasi startup Jogja Qatros Teknologi Nusantara. Baginya Qatros adalah wadah untuk siapa saja yang ingin belajar, terutama anak muda. 

Masalah kesalahan yang kerap dialami anak muda itu bukanlah sebuah masalah besar. Asal kesalahan tersebut cuma dibuat sekali dan nggak akan terulang lagi.

“Gue berharap Qatros bisa jadi wadah buat anak-anak muda untuk berkreasi. Qatros sangat welcome dengan talenta-talenta muda. Dan gue tahu mereka juga butuh wadah untuk berkarya karena memang gue juga pernah ada di posisi seperti itu. Gue juga memposisikan Qatros ini sebagai wadah belajar. Jadi Qatros akan sangat toleran terhadap kesalahan-kesalahan, yang menjadi catatan adalah kesalahan tersebut hanya berlaku sekali dan nggak akan ada ulangan yang berkelanjutan,” tutupnya.

Sign in to leave a comment