Klasifikasi Bug: Bug Severity dan Bug Priority
Klasifikasi merupakan upaya pengorganisiran yang mempermudah kita untuk menjangkau atau menyelesaikan masalah.


(© Qatros.com/Rudy Wijanarko)

Banyak sekali deskripsi mengenai bug, namun sederhananya bug adalah sebuah kesalahan atau cacat yang ada pada sistem yang kemudian perlu untuk dieksekusi dengan tepat. Sebelumnya startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara pernah membahas sejarah penggunaan istilah bug di ranah teknologi.

Kali ini, Qatros Teknologi Nusantara akan membahas klasifikasi bug yang penting untuk diketahui terutama oleh Quality Assurance tester, developer, serta product manager. Klasifikasi ini akan memudahkan kita untuk mengetahui, melaporkan, menganalisa, dan upaya-upaya mengelola bug dalam bentuk lainnya. Klasifikasi yang dimaksud terbagi menjadi dua yakni: bug severity dan bug priority. Mari kita bahas satu persatu, kisanak.


Klasifikasi Bug Severity

Apa sih bug severity? Singkatnya, bug severity merupakan klasifikasi untuk menentukan sebesar apa dampak bug terhadap sistem. Semakin parah tingkat severity, maka semakin parah efek yang ditimbulkan sebuah bug pada jalannya software. Beberapa bug yang tergolong tinggi di klasifikasi severity dapat menyebabkan terjadinya crash pada software, bahkan ada yang sampai membuat software tidak dapat dijalankan.

 

Suggest

Suggest merupakan jenis bug yang tidak mempengaruhi jalannya sistem. Suggest merupakan klasifikasi terendah dari severity. Suggest  berisi tentang opini Quality Assurance tester terkait user interface dan user experience setelah menggunakan/melakukan test software. Jadi tingkat ini bukanlah bug yang parah, gaes.

 

Bug Minor

Bug minor merupakan tingkatan ke dua dari bawah di klasifikasi severity. Bug minor dapat dikategorikan sebagai bug yang perlu dibenahi. Kehadiran bug minor sebenarnya tidak terlalu berdampak pada sistem. Penilaian apakah sebuah bug pantas masuk kategori minor sebenarnya cenderung subjektif. Semua tergantung pada faktor pelaku. Tiap Quality Assurance tester sangat mungkin untuk mempunyai patokan penilaian yang berbeda.

 

Bug Medium

Seperti halnya bug minor, penilaian sebuah bug masuk kategori medium ini tergolong subjektif. Yang menjadi pembeda bug medium dengan bug minor tentu dampaknya terhadap sistem yang memang satu tingkat lebih tinggi. Bug ini masuk dalam kategori yang perlu dibenahi karena efeknya cukup mengganggu pada alur kerja sistem.

 

Bug Major

Bug major boleh dibilang bug yang banyak menyita perhatian Quality Assurance tester. Hal tersebut disebabkan oleh dampak dari bug ini yang sangat berpengaruh terhadap proses jalannya software. Di beberapa kasus, bug major dapat mengganggu jalannya proses testing. Jika gangguan makin parah misalnya sampai terjadi crash, maka bug tersebut perlu untuk dilaporkan kepada leader, atau supervisor yang memimpin jalannya project tersebut. Setelah mendapatkan berdiskusi, maka kisanak bisa melakukan task selanjutnya.

 

Bug Crash

Sebuah bug masuk kategori crash jika bug tersebut menyebabkan software yang dijalankan berhenti secara tiba-tiba. Bug crash kerap mengeluarkan user dari software yang tengah berjalan. Selain itu, freeze pada software juga merupakan salah satu bentuk crash, karena software  tidak bisa merespon kontrol apapun. Jika menemukan bug seperti ini, kisanak perlu menyebutkan pada laporan langkah apa yang kisanak lakukan untuk memulihkan device.

Contoh: laporkan jika kisanak melakukan force shutdown ketika aplikasi 'notepad' yang dijalankan terjadi crash

 

Bug Undoable

Bug Undoable merupakan bug yang berada di puncak klasifikasi severity. Jenis bug ini menghalangi Quality Assurance tester untuk melakukan proses testing. Jika proses testing tidak dapat dilakukan, maka sementara proyek pengujian akan terhenti. Akan tetapi, masih ada kemungkinan fitur-fitur lain yang ada di dalam software dapat diuji. Jadi upayakan untuk selalu berkomunikasi dengan tim mengenai hal ini.

 

 

Klasifikasi Bug Priority


Setelah bug severity, ada bug priority. Klasifikasi priority akan menentukan sesegera apa sebuah bug harus diselesaikan. Semakin tinggi tingkat prioritas sebuah bug, maka harus semakin segera bug tersebut harus diperbaiki.


Bug Low

Bug low merupakan jenis bug yang masuk ke dalam skala prioritas paling bawah. Bug low tidak akan mengganggu fitur secara general dan tidak menyebabkan crash. Di proyek-proyek agile development, developer yang mendapatkan laporan bug low, kerap memberikan respon konfirmasi status "to be fixed in update".


Bug Mid

Bug mid berada setingkat di atas bug low jika dilihat dari skala prioritas. Bug mid merupakan bug yang harus dipertimbangkan untuk diperbaiki. Biasanya bug mid mengganggu fungsi-fungsi tertentu pada software yang mengakibatkan software tidak dapat berjalan secara semestinya.


Bug High

Bug high merupakan bug-bug yang masuk dalam tingkatan tinggi untuk diprioritaskan. Yang perlu jadi catatan adalah bug high bukanlah bug yang dapat membuat softwar crash. Akan tetapi bug high mempunyai prioritas yang tinggi untuk segera diperbaiki oleh dev.


As Soon As Possible

As soon as possible merupakan puncak dari skala prioritas yang harus segera diperbaiki. Bug seperti ini biasanya dapat membuat sistem kacau. Yang membuatnya menyandang gelar pemuncak di klasifikasi bug priorit tidak lain karena dampak 'bug as soon as possible' mengakibatkan terjadinya crash bahkan sampai berakibat tidak bisa dilakukannya testing (undoable).


Berkenaan dengan bug reporting, startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara, kini sedang berupaya untuk menghadirkan sebuah platform bernama getdebug. getdebug merupakan platform scenario dan bug collaboration tool untuk mempermudah kerja tim (QA, PM, Dev).

 

getdebug dibangun agar ramah saat digunakan oleh Quality Assurance tester. Sistem penulisan bug report di getdebug dibuat dengan kaidah yang mengedepankan poin-poin: urut, rinci dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk penulisannya. Bug report yang dilakukan dengan menggunakan getdebug akan mencakup laporan terkait step by step, result dan expected behaviour, screenshot dari proses testing, dan bug severity - bug priority.

Tidak hanya memudahkan Quality Assurance tester saja, getdebug juga memberi keuntungan untuk developer dan product manager. Selain preset bug report yang memang akan menghasilkan laporan yang padat dan urut, developer dan product manager dapat mengelola bug report dan scenario yang telah dikirim oleh QA, sesuai dengan role masing-masing.



Sign in to leave a comment
Sejarah Penggunaan Istilah Bug di Dunia Teknologi
Siapa sih orang-orang yang berandil besar dalam penggunaan istilah 'bug' ini?