Jenis-Jenis Software Testing
Kali ini, Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara akan membagikan informasi terkait jenis-jenis software testing. Apa aja sih?


Software testing tidak lain merupakan pengujian program software yang dilakukan untuk memastikan kualitas dari suatu sistem atau software. Software testing bukan hanya perkara Quality Assurance tester saja, namun cakupannya lebih luas yakni kepada setiap pihak yang terlibat dalam sebuah proyek development software.

Sebagai bagian dari komunitas development software Indonesia, startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara, merangkum secara singkat 9 jenis software testing. Kira-kira apa saja sih? Yuk, baca artikel ini sampai habis, kisanak.

9 Jenis Software Testing

  1. System Testing 

System testing merupakan testing yang dilakukan pada satu keseluruhan sistem. Yang dilakukan tidak lain adalah end to end testing untuk memverifikasi semua skenario telah berjalan dengan baik. Cakupan system testing akan mengetes aspek-aspek fungsional dan non-fungsional dari sebuah software. Apakah software ini telah memenuhi persyaratan untuk digunakan oleh pengguna merupakan sebuah pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh jenis testing ini.

  1. Unit Testing

Unit testing merupakan testing yang dilakukan pada komponen atau modul terkecil dari sebuah software. Unit testing biasanya dilakukan oleh para programmer/software engineer, bukan Quality Assurance tester. Hal ini dikarenakan untuk melakukan unit testing diperlukan pengetahuan tentang internal program design atau coding. Selain itu, kemampuan yang diperlukan untuk melakukan testing jenis ini adalah developing test driver module atau test harness.

  1. Integration Testing

Integration testing merupakan testing yang dilakukan dengan cara mengintegrasi atau mengkombinasikan satu modul/unit testing dengan modul/unit testing yang lain. Fungsi utama dari integration testing adalah menguji interface di antara unit atau modul yang sudah di testing. Biasanya integration testing dilakukan setelah melakukan unit testing. Setelah unit atau komponen terkecil dibuat dan di testing, kita mulai untuk mengkombinasikan 'unit-unit yang sudah ditest' tersebut dan melakukan integrated testing.

  1. Usability Testing

Usability testing merupakan pengujian untuk menjamin bahwa sebuah software sudah user-friendly atau ramah digunakan oleh user. Beberapa pengujian yang dilakukan antara lain memastikan interface yang dibangun sudah sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan oleh user. Beberapa hal yang dinilai dari pengujian ini antara lain efektivitas, efisien, kemudahan, dan menyenangkan.

  1. Performance Testing

Performance testing merupakan terminologi atau istilah yang digunakan untuk menguji 'stress' dan 'load' software secara bergantian. Performance testing digunakan untuk mengecek apakah sistem sudah memenuhi performance requirements. Berbeda tingkatan performance sebuah software maka alat yang digunakan untuk testing 'stress' dan 'load'-nya akan berbeda.

  1. Smoke Testing

Smoke testing merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengecek satu bangunan software baru yang dibuat oleh development team. Proses pengujian ini biasanya dilakukan sebelum para Quality Assurance tester memulai rangkaian pengujian.

Smoke testing akan memeriksa bahwa tidak ada cacat pada software yang akan mencegah tim Quality Assurance tester melakukan pengujian secara mendetail. Setelah fase pengujian ini dilakukan, para Quality Assurance tester  akan mengambil perannya untuk memastikan bahwa bangunan software telah stabil. 

  1. Stress Testing

Stress testing merupakan pengujian yang dilakukan pada sistem atau software yang dilakukan oleh Quality Assurance tester untuk memeriksa bagaimana dan kapan software ini berhenti atau gagal. Pengujian ini akan menempatkan software di kondisi-kondisi, contohnya menempatkan jumlah besar di luar kapasitas penyimpanan, permintaan basis data yang kompleks, atau input data terus menerus ke dalam sistem.

  1. Sanity Testing

Sanity testing  merupakan pengujian yang dilakukan untuk menentukan apakah versi baru dari software yang dibangun dapat bekerja dengan baik. Jika software macet atau berhenti ketika penggunaan awal, maka sistem yang tertanam dalam software tidak cukup stabil untuk pengujian lebih lanjut. Maka dari itu, perlu untuk membangun lagi atau membetulkan aspek-aspek yang masih belum berfungsi sempurna.

  1. Regression Testing

Regression testing merupakan jenis pengujian yang dilakukan untuk memverifikasi bahwa perubahan kode pada software tidak memengaruhi fungsionalitasnya sebagai produk. Regression testing akan memastikan produk berfungsi dengan baik sesuai dengan fungsionalitas baru yang dipasang, perbaikan bug, atau perubahan-perubahan fitur yang ada.

Itu tadi 9 jenis software testing yang kerap ditemui pada proses development software. Testing bukanlah pekerjaan dari Quality Assurance tester saja, melainkan semua pihak yang berkaitan dengan development software. Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara percaya bahwa kelemahan-kelemahan pada software dapat diatasi dengan cara melibatkan banyak orang dalam pengecekan/pengujian software.


Writer : Girindra PC


Sign in to leave a comment
Mengenal Scrum: Treatment Untuk Produk dan Project Yang Kompleks
Scrum layak digunakan tim yang memiliki kans untuk menghadapi permasalahan-permasalahan baru.