Hari Buruh di Masa Pandemi Corona (COVID-19) 2020
Hari buruh di tahun 2020 berlangsung berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya karena adanya Corona (COVID-19).

Hari Buruh di Masa Pandemi Corona (COVID-19) 2020

Hari buruh di tahun 2020 berlangsung berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya karena adanya Corona (COVID-19).


 (© Qatros.com/Rudy Wijanarko)


Keberadaan Hari Buruh sebagai hari libur menarik untuk ditelisik perjalanannya. Media asal Amerika Serikat, TED, menyebut yang mendasari adanya hari buruh sebagai satu hari libur khusus adalah sebuah upaya ‘untuk merayakan pekerjaan itu sendiri’.


Adanya Hari Buruh Internasional pada tanggal 1 Mei tidak dapat dipisahkan dari gerakan pekerja di negeri ‘Paman Sam’ di akhir medio 1800-an. Menurut catatan, Hari Buruh pertama di Amerika dirayakan pada tanggal 5 Mei, di kota New York 1882.

Singkat cerita, yang menjadi pemicu hebat adanya Hari Buruh adalah kejadian di Haymarket Square pada 1 Mei 1886. Kejadian tersebut menewaskan beberapa orang polisi dan pekerja, di samping eksekusi kepada 4 pemimpin serikat pekerja.

Banyak serikat pekerja dan organisasi politik di dunia kemudian menandai kejadian Haymarket Square sebagai Hari Buruh Internasional. Pihak-pihak terkait beberapa negara, termasuk di Indonesia, menjadikan event tersebut sebagai hari libur nasional yang bertujuan untuk menjunjung hak dan derajat kaum pekerja.

Hari Buruh Nasional dan Tekanan Pandemi Corona (COVID-19) 

 

Berbagai aspek hidup berubah akibat dari hadirnya COVID-19 di tengah masyarakat. Salah satunya isu yang menjadi perbincangan adalah goyangnya banyak perusahaan oleh lesunya pasar di beberapa sektor, suku bunga pinjaman yang tidak terjangkau oleh pemasukan, sampai naiknya harga kurs dollar.

 

Dilansir dari Liputan6.com, terjadi pemecatan ratusan pekerja Ramayana, Depok (6/4). Perwakilan Ramayana Depok mengatakan bahwa pemecatan yang mereka lakukan terhadap beberapa pekerjanya adalah efek domino dari adanya wabah Corona.

 

Masyarakat lebih membelanjakan uangnya untuk pos-pos utama seperti kesehatan dan makanan. Penjualan barang-barang tersier seperti pakaian dan semacamnya mengalami penurunan.

 

Salah satu startup yang menyediakan jasa booking transportasi dan penginapan, Traveloka, juga merasakan dampak dari adanya Corona. Nikkei Asian Review (15/4) menyebutkan bahwa pengguna Traveloka jauh menurun. Lebih lanjut, Traveloka melakukan pemberhentian kerja terhadap 10% karyawannya. Sumber informasi menyatakan bahwa jika bukan karena Corona, Traveloka tidak akan melakukan pemulangan terhadap karyawannya.

 

Kondisi masyarakat tidak mendukung untuk adanya mobilitas tanpa konteks khusus. Kurang kondusifnya keadaan dengan angka korban Corona yang makin naik di beberapa daerah juga menjadi penyebab. Ini sesuai dengan anjuran dari beberapa petinggi negara untuk memperkecil persebaran Coronavirus.

  

Pemerintah cukup responsif untuk mengcover kondisi yang seperti ini. Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menunda pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja yang dinilai memberatkan para pekerja, beberapa saat sebelum agenda aksi demo Hari Buruh Nasional (30/4) di langsungkan.

 

Sebelumnya, Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBI) merencanakan untuk menggelar aksi besar-besaran untuk menolak Omnibus Law Cipta Kerja pada tanggal 30 April 2020. Pemilihan tanggal memang disengaja tidak disamakan dengan Hari Buruh Nasional (May Day) karena tanggal merupakan hari libur nasional sehingga para anggota DPR dan Kemenko Perekonomian akan non-aktif.

 

Qatros Teknologi Nusantara sependapat bahwa Hari Buruh Nasional merupakan upaya untuk merayakan pekerjaan itu sendiri. Meskipun kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan aksi demonstrasi, Qatros punya beberapa saran untuk menyuarakan ketidaksetujuan. Kita masih dapat menuangkannya dalam platform-platform online. Misalnya, change.org, ataupun yang paling sederhana ya akun-akun sosial media masing-masing.

Sign in to leave a comment
WorldWideWeb: Web Browser Pertama di Dunia
WorldWideWeb merupakan web browser pertama di dunia yang diinisiasi oleh ilmuan bernama Tim Berners-Lee.