GoTo: Merger Gojek dan Tokopedia
Gojek dan Tokopedia sudah menyelesaikan kesepakatan merger yang telah direncanakan dari akhir tahun lalu. Saat ini Gojek dan Tokopedia masih menunggu peresmian dan persetujuan dari para pemegang saham kedua perusahaan, baik Gojek maupun Tokopedia.

Waktu itu Qatros sempat membahas tentang rencana salah satu perusahaan startup aplikasi ride hailing, Grab yang dikabarkan bakal melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Saham Wall Street, Amerika Serikat tahun ini. Buat kisanak yang belum sempat membaca tentang rencana perusahaan startup aplikasi ride-hailing ini, kisanak bisa baca di sini dulu ya!


Baca juga: Startup Aplikasi Ride-hailing, Grab Bergerak Menuju IPO dengan Target 28 Triliun, Good Move?

Membahas tentang rencana besar Grab untuk melakukan IPO, ternyata salah satu perusahaan startup aplikasi ride-hailing kebanggaan Indonesia juga merencanakan untuk melakukan IPO loh. Bahkan, nggak cuma itu aja, perusahaan aplikasi startup ride-hailing, Gojek juga menggandeng salah satu perusahaan startup e-commerce yang nggak lain dan nggak bukan adalah Tokopedia untuk melakukan merger.

Hari ini Qatros alias perusahaan startup paling mantul dan gaul ini bakal bahas tentang perjalanan kedua perusahaan startup ride-hailing dan e-commerce yang juga akan melakukan Initial Public Offering di Bursa Saham. Lantas, gimana sih perjalanan Gojek dan Tokopedia dalam melakukan merger? Yuk simak artikel Qatros hari ini!

Rencana Merger Gojek dan Tokopedia

Menurut kabar resminya, Gojek dan Tokopedia sudah menyelesaikan kesepakatan merger yang telah direncanakan dari akhir tahun lalu. Saat ini Gojek dan Tokopedia masih menunggu peresmian dan persetujuan dari para pemegang saham kedua perusahaan, baik Gojek maupun Tokopedia.

Seperti yang kisanak tau, kedua perusahaan startup ini memiliki beberapa investor terkemuka. Sebut aja Alibaba Group yang menjadi salah satu investor Tokopedia dan Warburg Pincus serta Tencent Holding yang menjadi salah satu investor Gojek. Di sini lain, ada Tamasek Holding, Sequoia Capital, dan Google yang sama-sama menjadi investor kedua perusahaan tersebut.

Pada awal tahun ini kedua perusahaan startup, Gojek dan Tokopedia dikabarkan bakal melakukan dual listing di bursa saham Jakarta dan Amerika Serikat. Nggak main-main, rencana merger Gojek dan Tokopedia ini pun berencana untuk mengincar dana investasi sebesar US$18 Miliar yang kalau dikonversikan ke rupiah, jumlahnya menjadi Rp 263 triliun!

Dilansir dari Business of Fashion, merger Gojek dan Tokopedia ini akan melahirkan entitas baru yang bernama GoTo dan menurut laporan dari DealStreetAsia, perusahaan merger Gojek dan Tokopedia ini memiliki valuasi sebesar $40 triliun.

Rencananya GoTo bakal langsung dipimpin oleh CEO Tokopedia yang nggak lain dan nggak bukan William Tanuwijaya dan Patrick Cao serta dua co-CEO Gojek, Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi. Sedangkan untuk pembagian sahamnya akan menjadi 42 dan 58 persen.

Saat ini, Gojek menempati perusahaan startup kedua yang memiliki valuasi paling besar di Indonesia setelah Grab dengan nilai valuasi US$10 Miliar. Sedangkan Tokopedia menempati posisi keempat setelah J&T Express yang merupakan startup pengantaran logistik dengan nilai valuasi sebesar US$7 Miliar.

Bagaimana dengan nasib OVO dan Grab?

Sebelumnya Tokopedia sendiri dikabarkan akan melakukan merger dengan Grab Holding yang merupakan rival Gojek di bisnis ride-hailing. Mereka berdua memiliki investor yang sama yaitu Softbank Group dan keduanya punya sama-sama berinvestasi di perusahaan startup digital payment yang nggak lain dan nggak bukan adalah OVO.

Kisanak nggak perlu bingung dengan sistem pembayaran yang nantinya akan ada di Tokopedia setelah Gojek dan Tokopedia Merger menjadi GoTo. Karena menurut sumber yang nggak mau disebutkan namanya, Tokopedia kemungkinan besar nggak akan lagi pakai OVO sebagai alat pembayaran digital. Karena Gojek saat ini memiliki nilai valuasi yang lebih besar dan memiliki Gopay sebagai alat pembayaran digital mereka.

Tokopedia sendiri pun bukan pemegang saham terbesar untuk OVO, melainkan Grab yang menjadi pemegang saham terbesar untuk OVO. Dari situ, kita bisa simpulkan kalau Tokopedia nantinya akan menggunakan Gopay setelah melepas kepemilikannya pada saham OVO. Meskipun begitu, kemungkinan untuk tetap menggunakan OVO pun masih ada walaupun sangat kecil.

Sedangkan Grab yang merupakaan perusahaan startup ride-hailing terbesar di Asia dikabarkan juga akan melakukan merger dengan Altimeter yang merupakan sebuah perusahaan startup akuisisi bertujuan khusus (SPAC) yang berbasis di Amerika Serikat. Merger antara Grab dan Altimeter ini dikabarkan akan menghasilkan valuasi sebesar US$40 Miliar atau sekitar Rp 580 triliun. Langkah ini dinilai sangat efisien untuk melancarkan rencana IPO Grab di Bursa Saham Wall Street tahun ini.

Sebelumnya Grab Holdings memang berencana untuk melakukan IPO nih kisanak dengan melalui perusahaan cek kosong AS yang didukung banyak manajer investasi seperti T. Rowe Price sampai Tamasek Holdings Pte. Kabarnya merger Grab dengan Altimeter ini akan menjadi kesepakatan perusahaan cek kosong terbesar yang pernah ada.

Itu dia artikel Qatros hari ini kisanak tentang merger kedua perusahaan startup asal Indonesia yaitu Gojek dan Tokopedia yang nantinya akan diberi nama GoTo. Gimana menurut kamu, apakah rencana Gojek dan Tokopedia untuk melakukan merger ini adalah langkah yang tepat bagi keduanya?

Ohiya Qatros sebagai salah satu perusahaan startup IT Service dan Software Development di Jogja juga bisa loh bantuin kamu untuk membuat aplikasimu sendiri. Tinggal bilang kamu mau aplikasi seperti apa dan Qatros siap bantu! Klik link ini untuk mengetahui lebih lanjut ya!

Latest Posts

Sign in to leave a comment
Perkembangan Startup Fintech di Indonesia
Saat ini salah satu industri startup yang lagi naik daun adalah startup financial technology atau biasa kita kenal sebagai startup FinTech. Kehadiran startup FinTech di Indonesia sendiri dianggap sebagai salah satu solusi terbaik saat ini untuk membantu perseorangan maupun UMKM dalam menjalankan bisnisnya.