Siapa yang nggak kenal platform Twitter? Twitter merupakan platform sosial media dengan fitur layaknya micro blog. Fitur utama dari Twitter adalah aksi publikasi pesan sekaligus media interaksi yang biasa disebut dengan tweet. Pengguna Twitter yang telah melakukan registrasi dapat melakukan posting tweet, like, dan retweet

Startup Jogja, Qatros Teknologi Nusantara, kali ini akan membagikan cerita tentang perjalanan Twitter. Sebuah platform sederhana namun berkat kesederhanaan tersebut platform ini bertahan sampai saat ini.

Periode Odeo

Ide awal Twitter bermula di perusahaan bernama Odeo. Sebuah perusahaan yang hadir pada tahun 2005.

Saat itu, internet penggunaan dan pemanfaatan internet  belum semasif sekarang. Jagad maya dipenuhi dengan berbagai ide-ide development yang gila. 

Founder Odeo, Noah Glass, meluncurkan sebuah produk di mana pengguna dapat mengubah suara saat 'dial call' menjadi sebuah pesan dalam format mp3 yang kemudian disimpan di sebuah hosting. Ide dari Noah Glass itu menarik Evan Williams, mantan pegawai Google sekaligus tetangga dari Noah, untuk menginvestasikan pundi-pundinya usai menjual perusahaannya, Blogger.

Ide Awal Twitter Muncul di Lingkup Odeo

Beberapa tahun berikutnya, Odeo melakukan pengembangan layanan. Yang semula hanya melayani hosting pesan suara berformat mp3 dari 'dial call', berubah menjadi sebuah podcasting platform. Pengembangan ini menjadi alasan Odeo membuka kantor mereka sendiri dan kemudian merekrut banyak karyawan baru. 

Salah satu di antara karyawan yang masuk adalah seorang web desainer bernama Jack Dorsey, yang saat itu berusia 29 tahun, baru saja dipecat dari sebuah kios tempat bekerja dan baru dropout dari Universitas tempat ia belajar.

Di masa itu, iPod merupakan device yang sangat digemari dan terbilang canggih. Apple kemudian mengembangkan iTunes yang di dalamnya memuat podcasting platform.

Evan Williams, melihat pengembangan yang dilakukan oleh Apple akan mengancam Odeo. Ia yang saat itu merupakan CEO, sempat terpikir untuk memberhentikan operasi dari Odeo  Akan tetapi, Noah Glass memberikan usulan agar tetap melanjutkan operasi Odeo dengan membagi karyawan ke dalam beberapa grup dan sistem kerja per proyek.

Jack Dorsey dan Noah Glass

Usai jam kerja, kru Odeo biasanya menyempatkan diri untuk menonton showcase musik atau bercengkrama hingga malam hari. Topik utama yang diobrolkan kebanyakan soal teknologi dan aktivitas tersebut yang merekatkan hubungan sosial antara Jack Dorsey dengan Noah Glass.

Di saat krisis yang mengancam Odeo itu, Noah sempat melakukan inspeksi terkait kinerja para kru Odeo. Inspeksi Noah kemudian menemukan bagaimana kinerja dari Jack. Secara pribadi, ia menilai bahwa Jack Dorsey merupakan sosok yang layak untuk masuk sebagai salah satu karyawan terbaik yang dimiliki Odeo. 

Jack dinilai banyak memberikan ide-idenya. Ia kerap memikirkan, ‘pivot’ seperti yang bisa dilakukan oleh Odeo.

“Aku melihat bahwa Jack tidak begitu senang dengan apa yang dikerjakannya. Banyak sekali pekerjaannya yang bersinggungan dengan audio. Ia kemudian menceritakan kepadaku satu gagasannya tentang penyedia layanan 'status'. Ia juga menjelaskan apa yang menarik dari idenya tersebut,” ujar Noah.

Saat itu, muncul satu kultur digital di mana semua orang keranjingan untuk membuat status di jagad maya. Penyebabnya tak lain mulai memasyarakatnya platform seperti Facebook hingga Foursquare.

Di Februari 2006, Noah dan Jack kemudian membagikan gagasan tersebut ke seluruh tim Odeo. Ide yang digagas oleh Jack tidak lain adalah sebuah sistem yang memungkinkan pengguna untuk mengirimkan satu teks ke banyak pengguna melalui satu nomor penghubung. Atau dalam kata lain sistem broadcast teks.

Di saat yang bersamaan, Evan Williams menilai bahwa ‘Twttr’ tidak memiliki potensi yang bagus. Akan tetapi, ia tetap memberikan mandat pada Noah untuk proyek tersebut.

Proyek Twttr

Proyek ini sempat diberi nama ‘twicht’. yang kemudian diganti menjadi Twttr oleh Noah. Noah menjadi pemegang tanggung jawab atas proyek tersebut. Sedangkan Jack menjadi pembuat coding-nya. Tepat bulan Maret 2006, Odeo menjalankan prototype proyek Twttr.

Juli 2006, media TechCrunch memberikan reviewnya untuk Twttr: 

"Jika ini adalah startup baru dan dikerjakan oleh satu atau dua orang. Aku akan memberikan jempol untuk inovasi dan eksekusinya yang simpel namun punya dampak viral.”

“Akan tetapi, fakta berkata bahwa ini berasal dari Odeo yang kemudian membuat kami berpikir apa sebenarnya yang dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk membuat layanan utama mereka mentereng?”  

Versi pertama Twitter tidak lain adalah media sosial yang sangat bertumpu pada layanan sms. Hal tersebut dikarenakan infrastruktur serta device yang ada saat itu belum mendukung seperti sekarang.

Twttr terus berkembang. Di tahun 2007, nama proyek ini berubah menjadi Twitter. Mereka membeli domain untuk proyek ini. Jadi, pengguna Twitter selanjutnya dapat mempublikasikan status atau pesan broadcast melalui laman web Twitter.

Pengguna Twitter terus naik. Platform ini dinilai sebagai media tersiarnya informasi secara cepat dalam format spesifik 140 karakter. Melihat kebutuhan Twitter yang makin besar, Odeo membagi tim menjadi dua. Satu untuk layanan Odeo dan satu untuk layanan Twitter.

Evan Williams

Evan Williams merupakan sosok yang menarik. Ia sempat meragukan proyek Twitter. Di kemudian hari ia hendak membeli semua saham yang ada di sana.  

Evan dikenal dengan satu kutipan yang mungkin menjelaskan perjalanannya dalam berbisnis. "All every successful business people make enemies along the way," Evan Williams.

Evan yang berposisi sebagai chairman di Odeo, kemudian melengserkan Noah Glass yang saat itu berposisi sebagai CEO sekaligus pemegang proyek Twitter. Singkat cerita, setelah pemecatan Noah Glass, Jack Dorsey ditunjuk menjadi CEO dari Twitter dan Evan di posisi chairman.

Mencuri Perhatian di SXSW

Di tahun 2007, Twitter mencuri perhatian di acara budaya populer South by Southwest. Twitter digunakan sebagai medium untuk mengabarkan keberlangsungan acara oleh para peserta. Di beberapa titik, ada TV plasma yang secara langsung broadcasting pesan-pesan yang dikacaukan oleh para peserta acara. Dan semua peserta pun antusias untuk mengabarkan segala seluk beluk acara di SXSW.

Format Tagar

Hashtag atau format tagar menjadi ciri khas yang lain dari Twitter. Fitur ini diajukan oleh Chris Messina, salah orang yang terlibat dalam proyek Twitter. Seperti yang kita tahu, tanda tagar merupakan kode untuk mencari/mengklasifikasi topik-topik tertentu.

Lebih Cepat dari Media Konvensional

15 Januari 2009, sebuah kecelakaan pesawat terjadi di New York. Ada sebuah tweet yang berisikan foto dan teks yang menginformasikan berita kecelakaan tersebut. Yang menarik, informasi tersebut tersiar lebih cepat daripada media-media berita konvensional.

Menjadi Media Untuk Kampanye

Twitter juga tidak ketinggalan medium kampanye para tokoh di dunia. Dari @SBYudhoyono hingga @PopeBenedictXIV, dari @realDonladTrump hingga @jokowi.

140 menuju 280 karakter

Twitter sempat mengalami gempuran hebat dari development yang dilakukan oleh sosial media yang lain. Mereka akhirnya melakukan development  fitur agar pengguna tetap setia menggunakannya. Alhasil, pada tahun 2017, Twitter resmi mengubah format maksimal 140 karakter menjadi maksimal 280 karakter.

Kesimpulan

Kesimpulannya, Qatros Teknologi Nusantara melihat bahwa Twitter merupakan salah satu sosial media yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat dunia. Apakah kisanak salah satu orang yang sampai saat ini masih setia menggunakan platform dengan ikon ‘burung biru’ ini?


Sign in to leave a comment
Tips Mengelola Aset Teknologi/Digital
Pengelolaan aset teknologi/digital yang tepat akan memperkuat impact, interaction, sustainability, efficient, dan quality dari bisnis Anda